Era pemerintahan Presiden Megawati Soekarno Putri. Semangat dari

Era globalisasi yangtelah berkembang membuat informasi menjadi sesuatu yang vital. Pertukaraninformasi dilakukan untuk memenuhi kebutuhan manusia sebagai mahluk sosial.

Kemampuandan kecepatan seseorang mengakses dan menganalisis informasi menjadi langkahawal untuk memenangkan persaingan hidup yang makin kompetitif. Kemajuanteknologi satu sisi telah berhasil mengatasi keterbatasan jarak, dan waktu yangcepat, tetapi di sisi lain mempertajam ketidakseimbangan arus informasi. Hal ini dimungkinkan karena adanya berbagai media (channel) yang dapat digunakan sebagai saranapenyampaian pesan. Media massa menjadisalah satu bidang yang terkena pengaruh kemajuan teknologi.

Best services for writing your paper according to Trustpilot

Premium Partner
From $18.00 per page
4,8 / 5
4,80
Writers Experience
4,80
Delivery
4,90
Support
4,70
Price
Recommended Service
From $13.90 per page
4,6 / 5
4,70
Writers Experience
4,70
Delivery
4,60
Support
4,60
Price
From $20.00 per page
4,5 / 5
4,80
Writers Experience
4,50
Delivery
4,40
Support
4,10
Price
* All Partners were chosen among 50+ writing services by our Customer Satisfaction Team

Media massamemiliki fungsi sebagai media hiburan, edukasi, informasi, dan kontrol soaial. Mediamassa sangat berperan penting menjadi salah satu media penyiaran informasi yangbaru kepada khalayak. Kita dapat menerangkan berbagai informasi produk atautayangan itu untuk menarik perhatian khalayak melalui media. Salah satu mediayang dianggap sebagai sumber informasi maupun media penyampaian pesan yangefektif adalah televisi. Media televisimerupakan industri yang padat modal, padat teknologi dan padat sumber dayamanusia. Industri penyiaran Indonesia khususnya televisi berkembang pesat pascaruntuhnya Rezim Orde Baru pada tahun 1998. Indonesia memiliki 6 stasiuntelevisi pada tahun 2008, dan tahun 2012 memiliki 62 stasiun (Data Ditjen PPI,2012). Namun kemunculan berbagai stasiun televisi di indonesia ini tidakdiimbangi dengan pengetahuan pertelevisian yang memadai dan hanya berdasarkansemangat dan modal yang besar saja, sehingga banyak program yang ditayangkanhanya untuk kepentingan rating saja.

Media penyiaran diIndonesia khususnya televisi masih berada di antara tarik menarik kekuatan duakutub; antara kepentingan idealisme dan pragmatisme. Sisi idealis media akanselalu menuntut media penyiaran senantiasa berperilaku dan menampilkan sesuatuyang baik bagi publik. Pada saat yang sama, sisi pragmatis media juga akanmenuntunnya untuk berperilaku dan menawarkan sesuatu yang ‘asal mendatangkanuntung’, karena tak bisa dipungkiri bahwasannya media merupakan sebuah lembagayang berorientasi bisnis.

Di tengah kondisi tarik menarik inilah diperlukanperan regulator penyiaran, untuk memberikan aturan main yang jelas dan tegasterhadap lembaga penyiaran. Di Indonesia ada Undang-Undang No. 32 Tahun 2002tentang penyiaran. Undang-Undang ini dibuat pada saat zaman pemerintahan PresidenMegawati Soekarno Putri. Semangat dari undang-undang ini adalah pengelolaansistem penyiaran yang merupakan ranah publik harus dikelola oleh sebuah badanindependen yang bebas dari campur tangan pemodal maupun kepentingan kekuasaan..Untuk memastikanUndang-Undang itu berjalan, tentunya diperlukan adanya lembaga berwenangmengawasi siaran di Indonesia. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) adalah lembagayang berwenang sebagai regulator dan pengawas siaran televisi di Indonesia,yang terdiri dari KPI Pusat dan KPID di tiap-tiap provinsi.

KPI adalah lembagaindependen yang pembiayaan kegiatannya ditanggung oleh APBN (KPI Pusat) danAPBD untuk KPID. KPI berada dibawah pengawasan Dewan Perwakilan Rakyat RepublikIndonesia melalui Komisi 1(satu) nya. Selain mengawasi isi siaran programtelevisi, KPI juga mengawasi Radio sekaligus menerbitkan izin siaran, memberiteguran, sampai penghentian siaran sebuah program yang menyalahi aturan. Peranmasyarakat pun diperlukan untuk membantu KPI mengawasi isi siaran, karenaUndang-Undang itu pembuatannya ditujukan untuk “masyarakat penyiaran diIndonesia”.Salah satu tugas KPI adalah melakukan pengawasan terhadap setiap isisiaran yang disajikan televisi selama 24 jam setiap harinya.

KPI perlumelakukan pengawasan dan analisa program agar setiap televisi menayangkanprogram sesuai dengan P3SPS (Pedoman Prilaku Penyiaran dan Standart ProgramSiaran). P3 dan SPS berisi pedoman dan standar tentang apa yang boleh dan tidakboleh dilakukan serta aspek hukum, sanksi, dan peraturan lainnya. Setiaplembaga penyiaran, baik lembaga penyiaran swasta (LPS), lembaga penyiaranpublik (LPP), lembaga penyiaran komunitas (LPK), maupun lembaga penyiaranberlangganan (LPB), harus tunduk pada peraturan P3 dan SPS tersebut. Dalam aktualisasinya,proses analisa tayangan di KPI memerlukan peran seorang coder atau analis. Mekanismenya adalah; analis memantau setiaptayangan program televisi, dan mencatat setiap temuan pelanggaran yang tidaksesuai dengan pedoman P3SPS.

Hasil temuan tersebut di lanjutkan ke prosesediting untuk memotong temuan pelanggaran tersebut berdasarkan time code editing real time siaran pada sebuah televisi. Kemudian hasil editingtersebut dikaji oleh tenaga ahli untuk menentukan jenis pelanggaran maupunsanksi apa yang di jatuhkan. Mengingat seoranganalis atau coder dalam mengambilperan dalam proses kerja di KPI sebagai pengawas isi siaran bagi masyarakat,maka penulis mengambil judul laporan Kuliah Kerja Praktek ini adalah “PERAN CODER DALAM PEMANTAUAN ISI SIARAN TAYANGANPROGRAM TELEVISI DI KOMISI PENYIARAN INDONESIA ( KPI )”. Dan hal ini juga yangmenjadi salah satu latar belakang penulis memilih Komisi Penyiaran Indonesiasebagai perusahaan tempat kuliah kerja praktek, karena sesuai dengankonsentrasi dan jurusan yang penulis ambil.