Kanker rektum yang biasanya bermula sebagai tumor jinak

Kanker
kolorektal adalah kanker yang menyerang kolon dan rektum yang biasanya bermula sebagai
tumor jinak dan dapat menjadi tumor ganas yang menyerang jaringan normal dan
dapat menyebar ke jaringan sekitar (Brunner & Suddarth, 2008). Penyakit ini
merupakan masalah yang serius di dunia. Kanker kolorektal merupakan keganasan
tersering ketiga dan kanker penyebab kematian keempat di dunia. Tercatat tahun
2012 terdapat sekitar 1,4 juta kasus baru di dunia dan sekitar 700.000 kematian
yang disebabkan oleh kanker kolorektal dengan insidensi tertinggi dilaporkan di
Australia dan Selandia Baru, sedangkan insidensi terendah di Afrika Barat
(Ferlay J,et.al, 2013).

Kejadian
kanker kolorektal di Indonesia adalah sebanyak 12,8 per 100.000 penduduk usia
dewasa dan persentase kematian akibat kanker kolorektal sebanyak 9,5%. Berdasarkan
data International Agency for Research on
Cancer, angka kematian kanker kolorektal termasuk rendah yaitu sebanyak
8,5%, meskipun begitu angka kematian di negara berkembang termasuk Indonesia
terjadi paling banyak yaitu sebesar 52%. Dengan angka kematian tersebut,
menunjukkan bahwa ketahanan hidup pasien kanker kolorektal termasuk rendah pada
negara-negara berkembang, termasuk Indonesia (IARC, 2012).

Pasien
kanker kolorektal di Indonesia umumnya datang ke pelayanan kesehatan dalam
kondisi stadium sudah lanjut, sehingga membutuhkan total care. Proses perawatan
kanker kolorektal seperti kemoterapi, pembedahan dan perawatan stoma membutuhkan
waktu yang lama, dalam menjalani perawatan tersebut tentunya pasien membutuhkan
orang lain untuk menemani dan merawatnya. 
Dalam hal ini, keluarga mengambil peran caregiver tersebut. Caregiver
adalah Menurut Friedman (dalam Bowden & Greenberg 2010), salah satu fungsi
keluarga adalah memberikan perawatan atau pemeliharaan kesehatan yang mana orang
tua atau orang dewasa dalam suatu keluarga menyediakan makanan, pakaian, tempat
tinggal dan perawatan kesehatan guna mempertahankan dan meningkatkan kondisi kesehatan
individu. Dengan terlibatnya keluarga dalam proses perawatan kesehatan, akan membantu
meningkatkan kondisi individu baik secara fisik maupun psikis. Peran keluarga
sebagai caregiver bagi proses
pengobatan pasien kanker sangat besar terutama dalam menunjang motivasi pasien
untuk menjalani terapi. Seseorang yang mendapatkan dukungan keluarga merasa
diperhatikan, disayangi, merasa berharga dapat berbagi beban, percaya diri dan
menumbuhkan harapan sehingga mampu menangkal atau mengurangi stres (Grant et
al., 2013).

Keluarga
sebagai seorang caregiver  memberikan pengaruh besar terhadap kesembuhan
pasien, namun sering kali peran ini tidak dapat dijalankan dengan baik karena
berbagai faktor yang ada di luar dan di dalam diri caregiver. Faktor-faktor tersebut dapat mempengaruhi berbagai
kondisi. Kondisi yang buruk akan menimbulkan dampak negatif secara fisik,
emosional, sosial, finansial dan fungsi. Kondisi negatif dari keluarga sebagai caregiver ini disebut beban caregiver atau caregiver burden. Menurut Kozier (2004), beban caregiver adalah perubahan kesehatan emosional dan fisik caregiver dan stres pada caregiver dalam merawat keluarga yang
sakit dalam jangka waktu yang lama. Sedangkan menurut Montgromery, Gonyea dan
Hooyman mendefinisikan beban caregiver sebagai
distres yang dirasakan caregiver sebagai
akibat dari pemberian perawatan. Distres ini berbeda dengan depresi, cemas dan
respon emosi lain (Grant et al., 2013).

Caregiver keluarga
dengan pasien kanker harus mengubah gaya hidupnya untuk mengakomodasi
permintaan pasien termasuk membatasi waktu luang dan berinteraksi dengan teman
dan keluarga lainnya, kemudian saat caregiver
sangat membutuhkan penyegaran dan relaksasi, mereka tidak mempunyai
kualitas yang cukup. Caregiver keluarga
pasien kanker lebih memprioritaskan pasien daripada dirinya sendiri. Sebagai
akibatnya, caregiver memiliki banyak
masalah kesehatan seperti gangguan tidur dan kelelahan, yang memperburuk fungsi
fisik dan gejala burden (Williams,
2007).

Faktor-faktor
yang mempengaruhi beban caregiver antara
lain adalah keterbatasan ekonomi, keterbatasan pengetahuan dalam merawat
pasien, kurangnya dukungan. Gender juga mempengaruhi dalam beban caregiver, penelitian serupa meneliti
bahwa perempuan berpotensi mengalami beban caregiver
lebih berat dibandingkan laki-laki. Begitu pula umur muda dan juga lansia
akan semakin menerima tekanan akibat pemberian perawatan pada pasien (Joanna
Briggs Institute, 2012). Adapun menurut Henriksson dan Arestedt (2013),
penyebab beban caregiver pada
keluarga disebabkan oleh kurangnya persiapan dalam menjalani peran sebagai caregiver. Penelitian Joanna Briggs
Institute (2012) mengatakan kualitas hidup pasien diprediksi sebagai stresor
pada caregiver. Semakin terminal
penyakit yang diderita pasien maka tingkat beban caregiver juga akan semakin berat. Dalam hal ini kualitas hidup
pasien kanker stadium akhir akan berpengaruh terhadap beban caregiver. Perbedaan perawatan yang
dilakukan pun mempengaruhi tingkat beban caregiver,
caregiver pasien dengan kanker kolorektal dengan stoma mempunyai stres,
depresi, dan tingkat kecemasan yang lebih buruk daripada caregiver pasien tanpa stoma (Cotrim & Pereira, 2008; Seltman
et al., 2007).

Pada
penelitian yang dilakukan oleh Puspitasari (2017) memperlihatkan bahwa dari 40
orang caregiver pasien kanker yang
berada di rumah singgah, sebanyak 7 orang caregiver
mengalami tingkat beban caregiver sedang
sampai berat dan 1 orang caregiver mengalami
tingkat beban berat. Berbeda halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh
Darwin (2012) di Rumah Sakit Jiwa di Jakarta, bahwa beban perawatan caregiver paling banyak dijumpai pada
beban sedang atau berat. Hasil tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah
satunya adalah lokasi penelitian.

Penelitian yang
berkaitan dengan beban caregiver sudah
banyak dilakukan di luar negeri, namun di Indonesia sendiri belum banyak
diteliti. Penelitian yang sudah dilakukan di Indonesia adalah penelitian
tentang beban caregiver lansia,
skizofrenia dan kanker secara keseluruhan sementara penelitian beban caregiver kanker kolorektal di Indonesia
belum pernah dilakukan.